ABOUT US

Bermukim di luar negeri, tak berarti peluang berbisnis menyurut. Memiliki kultur dan berbicara dalam bahasa yang sama, serta memahami betul karakter dan keinginan warga Indonesia yang sedang melancong, adalah kekuatan yang dimiliki para perantau kita di tanah asing. Sangat wajar bila para turis asal Indonesia akan merasa lebih nyaman diurusi oleh orang Indonesia. Celah inilah yang berhasil saya tangkap untuk memulai berbisnis. Berbekal pengalaman hampir satu dekade malang melintang di dunia pariwisata, sejak tahun 2015 silam, David Sirait meneruskan passion-nya menjadi tour guide. Setelah hijrah ke Spanyol negara tempat istrinya, Elsa Incio Br. Siregar , berasal, David sudah melihat peluang bisnis yang bisa ia lakukan. Pemuda berdarah Batak ini bertemu Istrinya ketika masih bekerja di Bali Travel.
“Saya sudah menjadi tour guide di Bali sejak tahun 2005. Saya menyukai traveling. Jadi, mengapa saya tidak meneruskan kesukaan saya itu di sini? Apalagi, negara Spanyol ini merupakan salah satu destinasi unggulan di Eropa,” ujarnya. Tak mudah bagi warga asing untuk mendapatkan izin bekerja di negara ini, terutama di sektor pariwisata. Mereka haruslah betul-betul mengerti kebudayaan dan sejarah Espanyol serta fasih berbahasa Spanyol. Itu sebabnya, David memperdalam pengetahuan tentang sejarah dan kefasihan bahasanya dulu selama 2 tahun, sebelum total menceburkan diri di profesi ini. Beruntung, David yang besar di kota Medan ini mengaku tidak menemui kesulitan dalam mendapatkan izin kerja karena statusnya sebagai legal residence yang diperoleh dari pernikahannya dengan warga negara Spanyol. Sulitnya mendapat izin kerja atau berwirausaha bagi warga asing secara legal di Espanyol  disebabkan karena Espanyol termasuk negara yang memiliki angka pengangguran yang cukup tinggi dan terkenal akan birokrasi pemerintahnya yang rumit, terlebih saat melemahnya perekonomian Eropa saat ini. “Kalaupun berhasil mengantonginya, ada pembatasan waktu bekerja maksimal yang diizinkan. Misal, bagi pemegang dokumen izin tinggal pelajar, hanya 20 jam seminggu,” ujar David, menjelaskan. Beruntung, karena pernah lama bekerja di sektor pariwisata saat masih tinggal di Bali, David akhirnya banyak mendapatkan tamu dari relasinya. Tapi, tentu saja, kesuksesan David juga karena service yang berikan. “Pelayanan prima yang membuat saya tetap dicari dan direkomendasikan oleh tamu dan agen yang pernah saya layani,” tuturnya. Menurut David, tour guide yang baik adalah yang jujur, bekerja cepat, ramah, dan menguasai betul medan dan sejarah kota atau tempat wisata yang disambangi. David mengerti bahwa turis Indonesia sangat suka berbelanja dan cenderung kurang tertarik akan sejarah atau mengunjungi museum saat berwisata. David tak menghadapi persaingan berarti dengan agen tur setempat, karena bagaimanapun, orang Indonesia tentunya akan lebih nyaman jika ditemani oleh sesama orang Indonesia yang sudah paham karakter dan keinginan mereka. “Saya bahkan kebanjiran tamu dan seringkali terpaksa harus saya tolak karena padatnya jadwal,” jawabnya.Selain bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan travel agent di Indonesia, David juga menjalin hubungan baik dengan Kedutaan Besar Indonesia di Madrid. “Seringkali, saya dimintai bantuan mengantarkan pejabat maupun tamu-tamu penting kenegaraan saat mereka bertandang kemari,” ceritanya, bangga.” Kini, saya tidak hanya melayani tamu perorangan atau keluarga tapi juga grup besar, sekitar 30-35 orang, dan semuanya adalah turis asal Indonesia,” tukasnya, senang. Tak hanya mengantar tamu berkeliling melihat kota Madrid, David bahkan kerap diminta mengantar tamu-tamunya hingga ke Barcelona, Granada, Cordoba, Valencia, dan juga Sevilla bahkan negara Eropa lainnya seperti Itali, Francis, Swiss dan juga Norwegian. David  bersyukur dapat melakukan sesuatu yang ia sukai dan memperoleh pemasukan yang lumayan dari usahanya ini. Bisa berwisata gratis sekaligus mendapatkan uang. Keuntungan tertinggi bisa diperoleh saat memasuki peak season yang jatuh di bulan Juni-Agustus. Tapi, tentunya berlaku hukum no gain no pain. “Saat peak, tingkat stres tour guide biasanya meningkat. Bagaimana tidak, kami harus siap menyiasati pilihan alternatif saat hotel atau transportasi umum fully booked,” tuturnya, mengungkapkan kendala dan tantangan terberat yang harus dihadapi.
Sebetulnya waktu terbaik mengunjungi Espanyol itu justru di luar peak season, karena biaya-biaya lebih murah dan tempat wisata tidak terlalu berjubel dipadati turis. Bisa lebih nyaman dan puas mengeksplorasi,” sarannya. Kecuali, bagi yang ingin mengejar sale musim panas, tentu harus berkunjung pada bulan Juli, saat musim sale tahunan berlangsung.Dari pengalamannya selama 5 tahun lebih menjadi guide di Eropa, David banyak menyimpan kenangan manis dan juga mengesalkan. Ada-ada saja pengalaman yang ia temui ketika menemani tamu di perjalanan. “Tak cukup sekali dua kali memberi penjelasan. Kadang sampai harus mengulang berkali-kali. Intinya, sebagai guide, kita harus punya kesabaran ekstra dalam menangani karakter dan tuntutan tamu yang beragam,” sarannya. 

A %d blogueros les gusta esto: